Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

"Kebakaran"

Jumat, 17 Oktober 2014

::Cerdas-Berkarakter:: Suatu ketika, sebuah rumah yang cukup besar sedang mengalami kebakaran yang sangat dahsyat. Didepan rumah tersebut terdapat sebuah kolam besar yang berisi air yang sangat melimpah. Kobaran api tersebut tidak akan padam meskipun didepan rumah tersebut tersedia air yang cukup banyak. Malahan kobaran akan semakin besar dan siap menghabisi rumah-rumah yang ada disekitarnya. Ramai orang-orang yang menyaksikan kebakaran yang dahsyat tersebut. Ada yang sibuk dengan urusannya masing masing, foto selfie, teriak-teriak, ada yang telpon sana sini mencari bantuan. Dan ada juga yang menyalahkan satu sama lain.

Namun, dari kejauhan datang beberapa orang yang dengan sigap berlari sambil membawa ember, lalu menciduk air dari kolam lalu menimbuskannya kekobaran api yang kian membesar. Begitu terus-menerus dilakukan oleh beberapa orang tersebut. Oang-orang yang dari awal menyaksikan, mengejek orang-orang yang mencoba memadamkan api dengan ember. “Mana mungkin bisa, sia-sia saja perbuatan kalian”. “buat capek saja, apinya tidak akan padam”. Ejek mereka. Tetapi beberapa orang yang membawa ember tersebut tetap dengan tugas mereka, berusahan memadamkan api sesuai kemampuan mereka: dengan ember.

(Mungkin) begitulah gambaran dakwah ini. Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah menceritakan dalam Majmu'atur Rasail, bahwa saat ini ummat sedang krisis disemua aspek kehidupan: Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik, bahkan Ideologi. Saat ini ummat sedang mendapat bencana, kebakaran yang cukup dahsyat yang siap-siap memberanguskan seluruh aspek kehidupan. Beliau juga menjelaskan, bahwa “AIR” yang berlimpah itu adalah AL-ISLAM. Islam merupakan solusi bagi semua krisis yang dialami ummat manusia. Sebagaimana AL-ISLAM telah menjadi solusi segala masalah setiap apsek kehidupan pada era pendahulu “salafush shaleh” ummat ini. Segala persoalan yang terjadi, solusinya adalah kembali kepada ISLAM.

Namun, diperjalanannya, banayk diantara kita yang hanya menjadi penonton “kebakaran”. Mungkin karena belum pernah melihan “kebakaran” yang sedahsyat ini, tidak sedikit yang berfoto ria, selfie. Begitulah gambaran ummat ini, sibuk dengan urusan pribadi mereka, yang notabenenya merupakan urusan duniawi belaka. Tidak tergerak sedikitpun untuk memadamkan “kobaran api” yang kian membesar, bahkan siap untuk memberanguskan dirinya sendiri.

Disisi lain, banyak diantara ummat ini yang saling menyalahkan, “jangan ini, jangan itu”, “ini tidak boleh, itu tidak boleh”, “percuma menggunakan itu”, dan banyak lagi. Mereka senang sekali menyalahkan apa yang dikerjakan oleh “para pemadam kebakaran”. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa sedikitpun melainkan hanya menyalahkan. Itulah segolongan ummat ini yang tidak berkontribusi terhadap “pemadaman kebakaran” tersebut.

Ada sekelompok orang yang kerjaannya saling menyalahkan satu sama lain, bahkan mereka menyalahkan orang-orang yang berusahaa untuk memadamkan kobaran api tersebut yang kian membesar. Tiada lain, kerjaan mereka hanya menyalahkan, “ini gara-gara anda karena tidak ini, tidak itu...”. Begitulah kebiasaan mereka yang esesnsinya juga tidak berkontribusi dalam memadamkan “kobaran api” yang kian membesar.

Namun, sekelompok orang, mereka datang dengan ember-ember kecil, ada juga yang membawa ember yang cukup besar, berusaha memadamkan api semampu mereka. Mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan, mereka memadamkan kobaran api tersebut sesuai kapasitas mereka, meskipun banyak orang diluar sana yang menyepelekan perbuatan mereka, bahkan banyak yang mencemooh perbuatan mereka. Mereka tetap melakukan apa yang bisa mereka lakukan, minimal mereka tidak seperti orang-orang diluar sana yang sibuk dengan urusan dunianya masing-masing. Dan setidaknya mereka memiliki hujjah dihadapan Tuhan mereka, bahwa mereka telah melakukan semaksimal mungkin dalam memadamkan “kobaran api” tersebut (QS.Al-A'raf:164).

Itulah mereka pada da'i, yang berkomitmen untuk medakwahkan agama ini dimanapun mereka berada. Motto mereka “Nahnu Du'at Qobla Min Kulli Syai'”. Mereka digembleng dan ditanamkan dalam jiwa mereka bahwa mereka pada da'i penyeru ummat kepada jalan kebenaran dimanapun mereka berada, pada posisi apapun. Karena mereka meyakini bahwa solusi utama permasalahan ummat, permasalahan global adalah AL-ISLAM, tanpa banyak kata, yang mereka utamakan adalah action, sebagaimana motto salah satu iklan, “ Talk Less Do More”, yang sangat pas untuk mereka.

Diamanakah posisi kita? Apakah sebagai pembawa ember yang dengan sekuat kemampuan untuk memadamkan kobaran api? Atau sebagai penonton, atau penyemooh, atau yang saling menyalahkan?. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk aktif, istiqomah dan maksimal dalam perjuangan mendakwahkan agama-NYA diamanpun dan kapanpun kita berada.

 Wallahu a'lam.
Continue Reading...

Ucapan Terbaik Kita

Selasa, 14 Oktober 2014

Banyak diantara kita yang spontan mengucapkan kata syukur, tatkala mendapatkan suatu karunia berupa kenikmatan. Bahkan ada diantara kita yang spontan sujud syukur saat mendapatkan apa yang dicita-citakan. Bahkan ucapan syukur tidak luput setelah beberapa saat kemudian. 

Tetapi apakah hal yang sama sering kita lakukan tatkala mendapatkan hal yang sebaliknya. Dari hal yang kecil, apa yang pertama kali kita ucapkan saat jari tangan kita tertusuk jarum? Apa yang pertama kali kita ucapkan tatkala terjatuh dari motor? Atau yang lainnya. Sebagian besar dari kita pasti merintih kesakitan, setelah itu baru kita ber-istighfar, bahkan ada yang merintih dan lupa ber-istighfar. Bahkan ada yang mengucapkan alhamdulillah tatkala terkena musibah.

Mungkin itulah gambaran dari keimanan dan ketaqwaan kita. Karena Rasulullah SAW memerintahkan kita umatnya untuk bertaqwa dan bersabar. Beliau yang mulia, menyampaikan bahwa sabar itu adalah pada saat hentakan yang pertama (HR. Bukhori I/430 no.1223, Muslim II/637 no.926 dan Abu Daud II/210 no.3124).

Disini yang akan saya tekankan adalah pada saat sakratul maut. Bagaiman kita bisa lolos sakratul maut dengan predikat husnul khotimah, saat kita tertusuk jarum saja kita merintih dan ngomel, lupa mengucapkan kalimat thoyyibah. Bagaiman kita bisa lolos sakratul maut yang begitu dahsyat, tatkala kita mendapat sedikit saja kesakitan, kita “menyumpah-serapah”. Dahsyatnya sakratul maut ditambah gencarnya bujuk rayu iblis menambah beratnya sakratul maut. Yang menjadi harapan kita adalah saat itu kita bisa mengucapkan kalimat thoyyibah, laa ilaa ha illallah. Tetapi apakah kalimat thoyyibah menjadi kebiasaan ucapan kita, tatkala suka ataupun duka.

Mungkin diantara kita pernah mendengar bahwa kita akan diwafatkan atas apa yang kita cintai*. Kita menginginkan mati dalam keadan baik, dalam keadaan mengucapkan kalimat thayyibah, tetapi kalimat itu jarang kita lantunkan. Hal ini bisa kita lihat dalam keseharian kita. Kata apa saja yang keluar dari lisan kita hari ini? Terlebih ucapan apa yang kita ucapkan tatkala kita pertama kali ditimpa musibah? Itulah gambaran kebiasaan ucapan lisan kita. Semoga Allah perkenankan kita untuk mati dalam keadaan Syahid dijalan-NYa, mati dalam keadaan Khusnul Khotimah. Amiin Yaa Robbal ‘Alamainn.
Wallahu a’lam.

*ada yang mengatakan ini hadits, tetapi penulis belum mendapatkan riwayatnya.

Continue Reading...

Kita Orang Baik atau Allah Tutupi Aib Kita?

Senin, 01 September 2014

Ustadz Salim A Fillah dalam sebuah acara di masjid Sunda Kelapa pernah bercerita tentang orang-orang yang berjuang move on dari berbagai ujian yang datang kepada mereka. Beliau bercerita tentang Nabi Yusuf a.s. Di tengah-tengah cerita, beliau bertanya kepada jama'ah,
"Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf?"
"Zulaikha," jawab jama'ah kompak. "
Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Qur'an" Reflek jama'ah menjawab, "Dari hadits." 
Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur'an dengan lebih detil. 
"Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur'an?"Semua jama'ah diam. Ustadz Salim melanjutkan penjelasannya. "Karena perempuan ini MASIH MEMILIKI RASA MALU. Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur'an."

Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membukai dentitas kita. Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain? Apakah semua karena begitu banyaknya kebaikan yang dilakukan orang itu? Atau karena Allah telah menutupi aib orang itu? Mungkin ada yang mengganggap saya, kamu, kita adalah orang yang baik. Jika saja mau jujur, sungguh... itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya. Hina, sehina-hinanya. Seperti tak adalagi tempat tersedia untuk menerima kita. Kita harus berusaha menutupi aib orang lain sebagaimana Allah yang Maha Baik telah menutupi aib kita selama ini.

Mari berdoa seperti yang dicontohkan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a,"Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka."
sumber :fb
Continue Reading...

Jangan Khawatirkan REZEKIMU

Senin, 18 Agustus 2014

Janganlah khawatirkan REZEKIMU, karena Allah sudah menjaminnya untuk semua yang hidup... Tapi khawatirkan AMALANMU, karena Allah tidak menjamin Anda masuk surga.

============================================

Simaklah dengan seksama uraian indah Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- :

"Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yg sudah dijamin untukmu. Karena rezeki &ajal adalah dua hal yg sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya & terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], &  Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yg lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yg pertama, itulah rezeki susu murni yg lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, & terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan & dua minuman. Dua makanan = dari hewan & tumbuhan. Dan dua minuman = dari air & susu serta segala manfaat & kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah -subhanah- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yg berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Tuhan -subhanah-, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yg lebih afdhol &lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yg rendahan & murah, & Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yg mulia &berharga.
sumber : Inspiringmorning, www.syamorganizer.com, 74f3134a

Continue Reading...

Tempat Persinggahan

Rabu, 22 Januari 2014

Tempat persinggahan pertama kita semua Jika kita memasuki tanah pekuburan dan melayangkan pandangan pada kuburan-kuburan yang tersusun rapi, maka kita akan mendapati keheningan dan sunyi yang berpanjangan. Tak terdengar sedikitpun suara, meski ramai yang tinggal di situ. Kuburan-kuburan yang berderetan rapat, sementara dahulu mereka tinggal berjauhan, tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Ada anak kecil yang masih menyusui, ada orang kaya, ada juga orang yang tak punya apa-apa harta. Ada orang yang tua, dan ada pula anak muda. 

Namun, apakah gerangan yang terjadi pada mereka? Banyak di antara kita tidak mengetahui Misteri Alam Kubur. Utahman bin affan ra meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda: 

"Sesungguhnya kubur adalah tempat persinggahan pertama daripada persinggahan-persinggahan akhirat. Sekira ia selamat di situ maka selepasnya akan menjadi lebih mudah. Sekiranya tidak selamat, maka selepasnya akan menjadi lebih sukar.  Nabi saw berkata : Aku tidak pernah melihat satu pemandangan yang lebih dahsyat daripada azab kubur"
( Riwayat al-Tirmizi, Ibn majah dihasankan oleh al-Albaniy dalam Misykat)

Oleh kerana itu, kali ini kami akan mengajak anda untuk menjelajahi alam kubur sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdasarkan wahyu dari Allah - Subhanahu Wa Ta’ala-, bukan dari takhayyul yang dibuat-buat oleh manusia. 

Al-Barra’ bin ‘Azib-radhiyallahu ‘anhu- dia berkata, ”Kami pernah mengiringi jenazah seorang dari sahabat anshar. Tatkala kami tiba di kuburan, ternyata penggalian lahat belum selesai. Akhirnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-duduk (menghadap kiblat), dan kami pun duduk di sekelilingnya. seolah-olah ada burung diatas kepala kami yang hinggap (karena dalam keadaan diam dan tenang).

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memegang kayu yang beliau pukulkan ke tanah. (Beliau memandang ke langit lalu memandang ke tanah, lalu beliau mendongakkan kepalanya dan menundukkannya tiga kali). Kemudian beliau bersabda, اِسْتَعِيْذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ”Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur”. Diucapkan dua atau tiga kali. Sesungguhnya ia ( jenazah ) mendengar suara selipar orang-orang yang menghantarnya, apabila mereka pulang meninggalkannya.

Lalu ia didatangi oleh dua malaikat (yang keras herdikannya) seraya mengherdiknya dan mendudukkannya. Lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ”Siapa Rabbmu?” Maka ia menjawab, ”Rabbku adalah Allah”. Keduanya bertanya lagi, ”Apa agamamu?” Dia menjawab, ”Agamaku Islam”. Lalu keduanya bertanya lagi, ”Siapakah orang yang diutus oleh Allah kepada kalian itu?" Dia menjawab, ”Beliau adalah utusan Allah”. Lalu keduanya bertanya lagi kepadanya, "Apa saja amalanmu?”Dia menjawab, ”Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman kepadanya, dan membenarkannya”. Lalu malaikat itu bertanya lagi, ”Siapa Rabbmu? dan apa agamamu? dan siapa nabimu?” Itulah akhir fitnah (ujian) atau pertanyaan yang diajukan kepada seorang mu’min.

Maka itulah makna firman Allah -Ta’ala-, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat". (QS.Ibrahim: 27)

Lalu ia menjawab, ”Rabbku adalah Allah; agamaku Islam, dan nabiku adalah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-“. Maka ada Penyeru (Allah) yang menyeru dari langit dengan mengatakan, ”Telah benar hamba-Ku. maka bentangkanlah permadani dari jannah (surga) dan pakaikanlah untuknya pakaian dari syurga, serta bukakanlah untuknya pintu ke jannah”.

Lalu sampai kepadanya hawa syurga dan bau wanginya, dan diluaskan kuburnya sejauh mata memandang. Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: didatangkan kepadanya dalam bentuk) seorang laki-laki yang tampan wajahnya bagus pakaiannya, dan wangi baunya, lalu orang itu mengatakan, ”Berbahagialah dengan apa yang membuatmu senang, (berbahagialah dengan keredaan dari Allah -Ta’ala-dan syura yang di dalamnya ada nikmat-nikmat yang abadi). Ini adalah hari yang dijanjikan kepada engkau”.

Lalu ia mengatakan kepadanya, ”(Engkau telah diberi khabar gembira oleh Allah dengan kebaikan) Siapakah engkau ini? wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kebaikan”. Orang itu menjawab, ”Aku adalah amalanmu yang soleh (Demi Allah tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau orang yang bersegera melakukan ketaatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terbaik)". Kemudian dibukakanlah untuknya pintu jannah dan pintu neraka. Lalu dikatakan kepadanya, ”Inilah tempat tinggalmu jika engkau durhaka kepada Allah. Kemudian Allah menggantikanmu dengan yang itu (jannah)”. Saat ia melihat apa yang ada di dalam jannah, ia mengatakan, ”Ya Rabbi, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku pulang lagi kepada keluargaku dan hartaku”. (Lalu dikatakan kepadanya: tenanglah).

Seterusnya beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda , "Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (di dalam sebuah riwayat, "yang fajir/durhaka") apabila ia meninggal dunia dan menghadapi akhirat, Lalu ia didatangi oleh dua malaikat (yang keras herdikannya), lalu keduanya mengherdiknya dan mendudukkannya. Kemudian kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ”Siapa Rabbmu?" Maka ia menjawab, ”Haah…hah, saya tidak tahu”. Keduanya bertanya lagi, ”Apa agamamu?” Dia menjawab, ”Haah hah, saya tidak tahu”. Lalu keduanya bertanya lagi, ”apa pendapatmu tentang orang yang diutus oleh Allah kepada kalian itu?” Dia tidak tahu namanya.

Lalu dikatakan kepadanya, ”Muhammad!?" Maka ia menjawab, ”Haah…hah, saya tidak tahu (saya mendengar orang mengatakan begitu". Lalu dikatakan kepadanya, ”Engkau tidak tahu, dan tidak membaca?” Maka ada penyeru yang menyeru dari langit dengan mengatakan, ”Dia dusta. Maka bentangkanlah permadani dari neraka dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka”. Lalu sampailah kepadanya panas neraka dan hembusan panasnya. Disempitkan kuburnya hingga bertautlah tulang rusuknya karenanya.

Datanglah kepadanya (di dalam sebuah riwayat: didatangkan kepadanya dalam bentuk) seorang laki-laki yang buruk wajahnya buruk pakaiannya dan busuk baunya. Lalu orang itu mengatakan, ”Aku kabarkan kepadamu tentang sesuatu yang membuatmu menderita. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu”. Lalu ia mengatakan kepadanya, ”(Engkau telah diberikan kabar jelek oleh Allah)". Siapakah engkau ini? Wajahmu menunjukkan wajah orang yang datang dengan kejelekan”. Orang itu menjawab, ”Aku adalah amalanmu yang buruk. (Demi Allah, tidaklah aku mengetahuimu, kecuali engkau adalah orang yang berlambat-lambat dari melakukan ketaatan kepada Allah dan bergegas kepada kemaksiatan kepada Allah. Maka Allah membalasmu dengan yang terburuk)”.

Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, tuli lagi bisu dengan membawa sebuah palu besar di tangannya! Kalau saja palu itu dipukulkan kepada gunung, tentu gunung itu menjadi debu. maka orang itu memukulkan palu itu kepadanya hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikannya lagi seperti semula. Lalu orang itu memukulnya sekali lagi hingga ia memekik keras dengan teriakan yang boleh didengari oleh segala yang ada, kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan pintu neraka untuknya dan dibentangkan permadani dari neraka). Maka ia berkata:”Ya Rabbi! janganlah Engkau datangkan hari kiamat itu!”
[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4753), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (107), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (753), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (12059).Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1630)]

Demikianlah perjalanan kita kali ini. Semoga ia dapat menjadi nasihat bagi kita sebagai calon penghuni kubur yang akan segera menyusul orang-orang yang ada dalam liang lahad. Maka persiapkanlah imanmu dan amal solihmu dengan mempelajarilah agamamu sehingga engkau menjadi orang-orang yang selamat dari herdikan malaikat, dan himpitan kubur yang gelap. Ingatlah dunia dan umurmu singkat !! 

Disunting dari Sumber : almakassari.com
Continue Reading...